03 November 2008

Adipura dan Potret Jakarta yang Absurd

Pagi ini seperti biasa saya harus memburu surat kabar. Tidak hanya satu, tetapi semua koran besar terbitan Jakarta. Maklumlah, saya ingin tahu apakah ada tulisan saya yang dimuat suratkabar edisi minggu.

Sebagai penulis yang masih pemula—alias baru sepuluh tahun menulis—saya harus rajin-rajin mengumpulkan portfolio tulisan. Kalau dimuat, saya akan tersenyum kegirangan. Kalau belum, ya misuh-misuh saja dalam hati. Pasti redaktur sastranya sedang ‘teler’ lantaran tidak paham kualitas tulisan saya.

Saat saya melangkahkan kaki menuju lapak koran langganan saya yang terletak di sebuah stasiun kereta listrik (KRL), alangkah terkejutnya saya. “Lho, kok nggak ada?”

Saya melangkahkan kaki ke warung sebelah yang menjual minuman. Saya membeli minuman jeruk dalam kemasan gelas. “Tukang korannya mana, bang?”

“Itu mas. Dekat parkir motor,” jawab si penjual minuman menunjuk ke arah parkiran.

Saya bergegas menuju ke sana. Untunglah, tukang koran langganan yang setiap pekan saya datangi ternyata masih ada.

Saya membuka Suara Pembaruan. Lantas Jurnal Nasional. Kemudian beralih ke Republika dan Koran Tempo. Kompas tidak saya lirik, karena saya berlangganan di rumah. Hmm, belum ada cerpen saya yang dimuat lagi. Sedikit menghela napas. Mesti sabar, maklumlah cerpenis kelas bawah yang harus rela mempersilahkan para sastrawan besar bisa memajang karyanya di surat kabar ternama. Pembelaan tidak bermutu. He-he-he.

Dompet dikeluarkan. Sepuluh ribu dilayangkan kepada tukang koran untuk membeli Koran Tempo yang selalu saya baca tiap akhir pekan.

“Kok, pindah bang?” tanya saya sambil menyeruput Frutang.

“Mau ada tamu,” jawab salah seorang.

“Bukan, mau ada lomba. Apa tuh namanya. Kok, lupa ya?” jawab si penunggu lapak seraya menyodorkan kembalian sembilan ribu rupiah.

“Lomba?” tanya saya.

“Itu pak, yang kebersihan itu. Tukang dagang nggak boleh ada. Dua minggu nggak boleh jualan!” ujarnya lagi seraya menunjuk ke arah tempat para pedagang berkumpul.

Biasanya ada tukang es podeng, pempek, batagor, siomay, es cendol, mie ayam, lontong sayur, dan bubur ayam. Tapi, kali ini tidak satu pun yang menampakkan batang hidungnya. Semua hilang.

Dua orang penunggu lapak terus berpikir, apa sih penghargaan kebersihan yang digelar tiap tahun itu.

“Oh, adipura!” ujar saya memberikan jawaban.

“Nah, itu dia, pak.”

Saya manggut-manggut dan bergegas pergi. Dalam perjalanan pulang dengan angkot, saya berpikir keras. Apa hubungannya pedagang kaki lima dengan Adipura?

Mereka harus digusur lantaran Jakarta Selatan ingin meraih trofi kebersihan dari pemerintah pusat itu. Lantas semua pedagang kaki lima enyah dari semua trotoar?

Pedagang kaki lima memang seringkali mengganggu. Trotoar dipakai seenaknya. Pejalan kaki mau tidak berjalan ke jalan raya. Sesuatu yang berbahaya.

Yang makan malah memarkir kendaraan seenak udel. Seringkali menambah kemacetan Jakarta yang sudah luarbiasa macetnya itu.

Tetapi, dengan adanya pedagang kaki lima, kita bisa mendapatkan makanan yang murah-meriah-sehat-dan halal. Variasi makanan yang ditawarkan juga biasanya beragam.

Tidak hanya itu, kaki lima juga membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Dan bukankah kaki lima juga memberikan retribusi pajak kepada pemerintah daerah?

Hmm,….?

Bukankah hal itu sejatinya bisa disinergikan. Kenapa tidak dibuat kaki lima yang bisa memberikan opsi pilihan santap siang atau malam bagi masyarakat menengah yang mayoritas penduduk Jakarta, yang tidak menganggu lalu lintas, tetap menjaga keindahan kota lantaran tertata rapi, dan juga tetap memberikan kontribusi pemasukan kepada pemda.

Bukankah hal itu bisa dilakukan dengan mudah kalau pemda Jaksel tidak hanya berpikir sempit tentang sepotong piala bernama Adipura lantas membuat semua kaki lima ngumpet biar terkesan rapi? Padahal pemda juga memungut retribusi secara berkala. Ah, seperti ingin berjalan ke kanan, tetapi juga pengen ke kiri.

Sayangnya, saya bukan si kumis Gubernur Jenderal Batavia. Saya juga bukan walikota yang terhormat. Saya hanya penduduk biasa yang cuma bisa ngomel.

Angkot yang saya tumpangi berjalan pelan dekat sebuah minimarket. Menyadarkan lamunan saya yang tidak bermutu. Maaf, saya mesti turun…

23 Oktober 2008

Killer Statement

Ada sebuah istilah komunikasi negatif dalam Kecerdasan Emosional yang disebut killer statement. Apa itu killer statement? Gampangnya, killer statement itu adalah segala bentuk pernyataan kita yang kita keluarkan, sadar maupun tidak, tetapi melukai dan mampu merusak mental maupun semangat orang lain.

Jenis-jenis killer statement ini, tanpa sadar kita dengar setiap hari, atau barangkali tanpa sadar kita keluarkan dengan maksud bercanda, memotivasi, tapi justru merusak. Nah, kalimat-kalimat perusak jiwa yang menghasilkan perasaan yang negatif pada diri seseorang itulah yang seringkali kita sebut killer statement.

Menariknya, sejarah dunia komik pun pernah mencatat akibat buruk dari killer statement yang pernah diterima oleh dua anak bernama Jerry Siegel dan Joe Shuster. Kisahnya begini. Di masa depresi yang melanda Amerika pada 1933, Jeery Siegel mempunyai ide menciptakan seorang tokoh pahlawan anak-anak yang mempunyai kemampuan luar biasa.

Tenaganya lebih kuat dari besi, bisa terbang dan asalnya dari planet lain. Maka, bersama dengan temannya yakni Joe Shuster yang pandai melukis, diciptakanlah untuk pertama kalinya gambaran manusia baja tersebut. Tetapi gambaran komik manusia super itu tidaklah begitu menarik. Kecaman dan kritikan diterima.

Selama enam tahun berturut-turut komiknya pun ditolak sana-sini. Hingga akhirnya, puncak kehancuran mental Siegel dan Shuster terjadi saat mereka mendengar ada editor dari Detective Comics yang membutuhkan komik strips.Lantas mereka pun mencoba menjual kepada mereka.

Tapi, saat membuka-buka dan melihat gambaran komik mereka, para editor pun tertawa dan berkata, "Wah, nggak akan ada yang percaya dengan ide komik seperti ini. Gambarnya murahan dan tak mungkin laku dijual". Maka, karena sudah terlalu frustrasi dengan penolakan dan kalimat yang menghancurkan itu, Shuster dan Siegel akhirnya sepakat menjual komik serta segala hak ciptanya kepada Detective Comics hanya senilai US$130.

Perhatikan baik-baik, hanya seharga US$130 ! Tapi, itulah kesalahan terbesar Siegel dan Shuster akibat terlalu mendengarkan killer statement yang diterimanya. Karena, beberapa saat setelah komiknya dibeli, karakter komiknya ternyata menjadi pujaan. Anda pasti bisa menebak. Itulah tokoh Superman, manusia Krypton dengan kemampuan terbang, penglihatan super serta kekuatan fisik yang luar biasa.

Komik Superman menjadi begitu laris, hingga difilmkan, karakternya menjadi tokoh idola anak-anak. Sementara Shuster dan Siegel, penciptanya yang pertama, hanya bisa gigit jari. Tokoh Superman menjadi populer dan meraup keuntungan miliaran dolar AS. Tapi tokoh penciptanya hanya mendapat US$130, bahkan hidup dalam utang dan kemiskinan.

Untungnya, pada 1975 setelah mendapatkan tekanan bertubi-tubi dari publik
yang menganggap Detective Comics tidak berperikemanusiaan dengan membiarkan
pencipta Superman hidup dalam miskin, akhirnya Detective Comics sepakat memberikan jaminan finansial. Tetapi, kalau kita melihat kembali, itulah harga dari sebuah killer statement yang telah menghancurkan karir dan kehidupan dua orang bocah bernama Shuster dan Siegel.

Pembaca, kisah ini kiranya membuat kita sadar akan bahaya dari killer statement dalam hubungan interpersonal kita. Memang, kadang killer statement ini diucapkan tidak dengan intensi yang negatif, tapi dampaknya, sungguh merusak! Namun, bisa juga killer statement ini diucapkan dengan maksud khusus untuk menjatuhkan mental orang yang mendengarnya.

Tips penting

Untuk itu, ada beberapa tip penting bagi kita. Pertama, hati-hati dengan killer statement yang mungkin kita ucapkan baik kepada anak kita, pasangan hidup kita, rekan kerja maupun bawahan kita. Killer statement ini menunjukkan bahwa kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan, bisa membunuh potensi, kemampuan maupun karakter baik seseorang.

Karena itu, kalaupun Anda sedang stress, sedang tidak dalam kondisi mood untuk bicara, merasa tidak puas dengan hasilnya, ataupun merasa tidak suka dengan apa yang Anda saksikan, usahakan untuk menghindari menggunakan kalimat yang bernada menghancurkan atau mencela.

Kedua, kita sendiri sebagai orang yang akan dan biasa menerima killer statement dari orang-orang di sekitar kita, lebih baik kita siapkan anti virus bagi kita sendiri. Anti virus ini berisi kalimat lain yang kita ucapkan pada diri kita sendiri, meskipun orang lain sudah mengatakan killer statement itu kepada kita.

Dalam workshop Kecerdasan Emosional yang kami lakukan, salah satu latihan yang kami berikan adalah dengan menggunakan kalimat penguatan positif yang cepat menetralkan meskipun orang lain telah mengatakan hal yang buruk kepada Anda.

Menariknya, juga di salah satu acara kontes menyanyi, ada seorang penyanyi kodang yang sudah tua, tapi diundang menjadi tamu untuk juri. Saat itu ada seorang penyanyi yang mendapat penilaian buruk dan akhirnya tersingkir. Saat sebelum mundur, si penyanyi tua ini memberikan nasihat, "Jangan pedulikan hasil penilaian ini buatmu. Yang penting adalah kuatkanlah dirimu terus. Sayapun tidak pernah menjuarai kontes menyanyi, toh dengan kegigihan, saya bisa menjadi seorang penyanyi. Teruslah berlatih dan buktikan dirimu bisa berhasil". Wow, mata saya berkaca-kaca mendengar motivasi dari sang artis dan bintang penyanyi tua ini.

Sungguh suatu kata-kata penguatan yang luar biasa. Andapun harus mengatakan hal yang sama kepada diri Anda, saat Anda diberikan kata-kata negatif ataupun killer statement. Ingatlah pembaca,
jangan sampai potensi dan kemampuan Anda dirusak oleh kata-kata dari kalimat orang yang tidak bertanggung jawab. Merekalah yang sebenarnya punya masalah dengan diri mereka.
Jangan biarkan mereka merusak diri Anda.
Jangan biarkan mereka mencuri mimpi Anda.


Sumber: Killer Statement oleh Anthony Dio Martin

21 Oktober 2008

Primordial Jilid II

suatu waktu, saya pernah denger khotbah eh ceramah ding.  seorang ustadz bicara, "orang betawi mesti maju.  jangan orang2 jawa aja yang jadi pegawai negeri, kerja di perusahaan, dll"

ceramah itu bikin saya tertawa.  waktu itu saya masih SMP kalo nggak salah.

"orang2 jawa, padang, dll bisa maju ya karena orang betawi.  orang betawi mau ngalah."

saya langsung bengong


di daerah rumah saya di bukit duri banyak sekali orang2 betawi.  mereka terus dan terus tergusur.

mama saya pernah bercerita kalau yang memiliki tanah di bukit duri itu orang2 betawi.  salah satunya seorang haji yang disegani.
lama kelamaan tanah dijual.  naik haji, menikahkan anak, sunatan, hajatan, atau apa saja pasti tanah dijual.

kalau dulu masih ada katakan 10 ribu meter, si anak mau dinikahkan cukup jual 100 meter saja, ya sisanya masih banyak.  tapi bagaimana ketika si orangtua meninggal, tanah dibagi2.  lantas anak2nya memiliki 'tabiat' yang sama.  mau apa2 harus jual tanah.

jadi ketika sampai keturunan kedua dan ketiga, mereka hanya memiliki tanah yang mereka tempati!

dulu, mereka masih bisa memperlihatkan luas tanah sejauh jari menunjuk tetapi lain dengan sekarang.

orang betawi bukan mengalah, tapi kalah.  maaf, bukan mendiskreditkan suku tertentu.

ketika indonesia merdeka di tahun 1945, orang2 dari seluruh indonesia masuk ke jakarta.  mereka datang dari seluruh penjuru nusantara.  dari sabang sampai merauke.  menguasai tanah abang sampai rawa bangke


orang2 yang datang itu terdidik dan memiliki ilmu.  orang aceh, batak, padang, palembang, lampung, riau, jawa, sunda, madura, bali, makasar, bugis, manado, ambon, flores, kalimantan, dll.  indonesia yang baru merdeka memang butuh tenaga ahli. 

migrasi besar2an ini membuat jakarta dipenuhi pendatang.  orang2 lokal menjual tanah kepada para pendatang.

kantor2 pemerintah diisi oleh orang2 dari seluruh indonesia terutama jawa.  kenapa sih orang2 jawa suka jadi PNS?

orang jawa tergolong suku yang payah.  saya tidak menjelekkan suku tertentu.
selalu terjepit antara ngoyo dan nrimo.  pasrah tapi nafsu juga.  ya, agak2 munafik.
mereka suka mengabdi pada raja dengan menjadi pangreh praja (jaman kerajaan), jadi ambtenaar (jaman penjajahan belanda), dan kemudian jadi pegawai negeri sipil (ketika merdeka).

perusahaan swasta terbagi rata dengan berbagai suku, meski jawa tetap mendominasi karena bisa 'dikerjain', mau digaji murah, tapi pekerja keras.  absurd.

perniagaan tentu saja dikuasai suku minang, makasar, dan bugis.  hanya saja minang lebih dominan.
tengok saja tanah abang.  setelah etnis cina, orang2 padang yang mendominasi.

tabiat orang padang yang suka merantau yang ditanamkan sejak kecil menjadi adat istiadat.
lelaki yang beranjak dewasa tidak lagi tidur di rumah orangtua, 'diusir' secara halus, dan tidur di surau2.

saya tidak tahu ada apa dengan adat istiadat orang betawi.  saya belum pernah tahu ada penelitian tentang itu.  hanya saja saya perhatikan masyarakat betawi tidak terlalu banyak yang sekolah.  lebih banyak sekolah informal soal agama.
agama memang kuat tetapi pendidikannya informal.  tidak masuk institut agama islam atau sekolah tinggi agama islam atau universitas.

saya tidak mengatakan pendidikan harus kuliah.  tetapi kalau ingin memperdalam agama, kenapa tidak sampai level tertinggi?

banyak dari tetangga yang notabene orang2 betawi hanya sekolah sampai SMP atau SMU atau STM.  kebanyakan sekolah umum.  tanpa ketrampilan.  ketika ada peluang kerja, mereka terlempar dengan sendirinya.

peluang usaha juga tertutupi.  tengok berapa banyak warung padang di jakarta.  hitung berapa warung tegal?

semua dimiliki orang2 pendatang.  dikuasai oleh pendatang.  kakak kelas saya di SMU pernah membuat penelitian soal warteg.  ternyata jaringan warteg seperti mafia!  jaringan pemasok sembako terbagi dalam beberapa wilayah.  tidak boleh sikut2an.  ya karena sama2 orang tegal.

lantas bagaimana dengan orang betawi?
tidak bisa kerja secara formal.  terdesak kalau membuka usaha.  mau tidak mau, orang2 betawi makin bergerak ke pinggiran jakarta.  hinterland.  citayam, depok, tangerang, bekasi, dll.

sejatinya, bukan orang betawi saja yang terdesak, tetapi banyak penduduk lokal yang terpental oleh pendatang.

saya pernah tinggal di yogyakarta selama lima tahun.  saya pernah punya teman dari seluruh indonesia.  dari kota2 besar seperti surabaya, bandung, ternate, flores, hingga pedalaman kalimantan yang harus ditempuh 8 jam perjalanan dengan perahu!
atau ada kawan yang datang dari pulau bau-bau.  ah, untunglah geografi saya tidak jelek2 amat


ketika ramadhan dan lebaran, kota yogya sepi.  saya pernah pulang satu hari menjelang lebaran.

kok bisa sepi?
ternyata, 100-150 ribu mahasiswa datang dari seluruh indonesia.  pemilik warung, dosen, pemilik wartel, sampai angkringan bukan orang yogya asli!
mereka datang dari yang terdekat seperti klaten sampai ke aceh, medan, padang, dll

ketika saya KKN di sebuah kecamatan terpencil di kabupaten Kebumen Jawa Tengah, saya bertemu dengan tukang sate yang tentu saja orang madura asli dan pemilik warung padang yang sudah pasti orang minang.

kok, jauh sekali merantaunya?


hal sama juga saya temui di pulau lombok.  25% pendatang berasal dari jawa dan mereka menjadi salah satu suku dominan.  suku sasak sendiri terdesak keberadaannya.

lantas kenapa orang pendatang bisa survive?
jawabannya mudah.  orang pendatang mau kerja apa saja.  kita bicara dalam konteks halal tentunya.

di kampung, mungkin kita tidak punya apa2.  lantas seorang paman menawarkan pekerjaan berdagang mie ayam.  apakah anda akan menerima?  saya pribadi akan mau saja dan tidak keberatan.

malu?  gengsi?  apakah orang2 di kampung melihatnya.  belum tentu.  apalagi kalau merantaunya cukup jauh.

saya pernah membeli nasi goreng di pinggir jalan.  yang jualan tiga orang!
saya geleng2 kepala ketika rasanya tidak kiri, tidak kanan.  ya maklumlah kalau yang masak itu masih magang

satu orang mungkin pedagang asli, yang dua sedang menjadi cantrik tukang nasi goreng

saya tidak mau mengatakan suku A pemalas, suku X tidak mau bekerja, nggak doyan sekolah dll

hanya saja dari pengamatan saya, hal ini tidak terlalu berhubungan dengan suku, tetapi lebih pada masalah pendatang dan penduduk lokal